BENTUK PROSA DAN PUISI

Ada dua bentuk yang berbeda dalam dunia kesusastraan kreatif kita. Yaitu bentuk prosa dan bentuk puisi. Bentuk prosa adalah bentuk pengucapan dengan pikiran. Meski demikian, bentuk prosa tidak semata mengabdi pada pikiran sebagaimana halnya iimu. Prosa yang baik senantiasa memperhatikan pula stilistika (ilmu gaya) dan keseimbangan antara “bentuk” dan “isi”. H.B.Jassin dalam “Tifa Penyair dan Daerahnya” mengatakan, prosa baru dapat dikatakan bersifat kesusastraan apabila telah memenuhi syarat-syarat kesenyawaan harmonis antara “bentuk” dan “isi”. Ia memberi perumpamaan bahwa prosa biasa adalah laksana angka-angka yang berisi pengertian-pengertian yang tetap, sedang prosa kesusastran adalah laksana manusia yang hidup, kesatuan tubuh dan jiwa, pikiran dan perasaan dalam serba kemungkinan.

Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prosa kesusastraan adalah keseimbangan antara bentuk dan isi, pikiran dan perasaan. prosa bukan semata pengabdian alam pikiran pengarang, tapi adalah hasil keseimbangan.

Sementara yang disebut puisi adalah bentuk pengucapan dengan perasaan. Dalam buku yang sama H.B Jassin menjelaskan puisi itu sebagai berikut:

“Puisi dibanding dengan prosa adalah seperti orang menyanyi dan orang bicara. Puisi tidak mengabdi pada otak yang berpikir, tapi manusia yang merasa. Puisi adalah peralihan manusia seluruhnya, manusia daging dengan pikiran dan perasaannya. Kelebihan penyair dalam mempergunakan bahasa ialah bahwa ia menjiwai perkataan-perkataan yang telah usang dipergunakan, oleh pilihan kata, kombinasi-kombinasinya, melebihi pengarang prosa kesusastraan”(Jassin, 1977:41).

Puisi dengan sederhana dapat dikatakan sebagai bentuk yang: kalimat-kalimatnya bersusun ke bawah dengan bait atau kuplet. Tetapi isi puisi merupakan hal yang sangat pribadi atau sangat individual dan subjektif. Inilah yang dimaksud dengan pengertian di atas. pun “isi” puisi ini tidaklah sama seluruhnya “teknisnya” (kalau boleh disebut demikian) dari semua penyair; sebab puisi sebagaimana yang dirumuskan Willem Kloos adalah penjelmaan yang seasli-aslinya dari perasaan yang seasli-aslinya. Terserah bagaimana bentuk keaslian perasaan sang penyair dalam menciptakan puisi-puisinya. Juga terserah ”teknik“ pengucapan yang dipilih penyair dalam menyusun bait-bait atau kuplet yang cocok mendukung perasaannya. Itu semata hanya menupakan persoalan konvensi kepenyairan belaka. Bahkan puisi-puisi yang menyimpang dan konvensipun (inkonvensional) bukan sesuatu yang “aneh“ dalam karya satra. Penyair Sutardji Calzoum Bachri pada awal kemunculannya telah memberi contoh, meski harus disertai dengan ”kredo“ yang menjelaskan konsep kepenyairannya sebelum karya-karyanya diterima publik sastra.

Dengan begitu, persoalan kreativitas adalah persoalan intensitas pengarang dengan dunianya. Artinya ia jauh dari sikap “main-main” dalam menciptakan karya-karyanya ,sekalipun karya-karyanya merupakan karya-karya eksprimen yang mencoba mencari kaki langit baru dalam jagad kesusastraan.

Meskipun prosa dan puisi praktis mempunyai perbedaan yang mencolok sebagaimana yang diuraikan di atas, namun keduanya juga mempunyai persamaan asrat (rahasia). Keduanya dapat menyatu dalam untaian atau rangkaian yang tak terpisahkan sehingga sulit mencari garis batas pemisahanya. Hal in dapat terjadi apabila kedua bentuk ini saling menyatu, lebur dalam sebuah bentuk baru yang merupakan kombinasi harmonis hingga yang satu menjadi bumbu bagi yang lain dalam membentuk keutuhan kontemplasi. Pada perumusan ini tentulah pengartian puisi bukan lagi sajak (atau sanjak), tapi adalah dunia tersediri yang bangkit dengan manipestasi tersendiri pula. Puisi di sini tidak lagi berarti lawan dan prosa, tapi justru adalah kawan baik, yaitu kawan yang akrab yang suka kerjasama menciptakan plot, situasi (tempat dan waktu), kerakter para tokoh, tema, dan entah apalagi. Tegasnya, puisi disini menjadi pengertian yang hakiki dari pertemuan dua dunia: yaitu dunia dalam diri individu dan dunia dalam diri alam. Maka tepatlah di sini apa yang menjadi tujuan konteks semboyan penyair Coleridge mengatakan, lawan dari puisi bukanlah prosa tapi adalah ilmu; lawan dari prosa bukanlah puisi tapi sajak. Tentu saja yang dimaksud Coleridge adalah “suasana” puisi yang juga ditemui dalam sebuah betuk prosa.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.629 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: