MENDAFTAR KULIAH DI PTN MELALUI SNMPTN 2015 SECARA ONLINE DAN TIDAK MELALUI TES TERTULIS.

snmptn 2015 gratisPada hari Senin (09/02/15) pihak Universitas Lambung Mangkurat yang diwakili Prof.Ir.Fadli Yusran,Phd, Tedy Setiawan dan tim mengadakan acara sosialisasi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
SNMPTN sendiri merupakan pola seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru program sarjana secara online berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor dan fortofolio akademik. Acara tersebut diikuti seluruh perwakilan SMA/SMK/MA dari Kabupaten Tabalong, Balangan, HSU, HST, HSS, Tapin. Untuk SMAN 1 Amuntai Utara diwakili oleh Drs. A. Rifani, M.Pd selaku kepala sekolah untuk mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut. Continue reading “MENDAFTAR KULIAH DI PTN MELALUI SNMPTN 2015 SECARA ONLINE DAN TIDAK MELALUI TES TERTULIS.”

CERPEN “JURU MASAK” KARYA DAMHURI MUHAMMAD

SAMPUL CERPENPerhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai Kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Kentang dan Gulai Rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah, bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tak dilibatkan.

Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tigabelas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan pada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Tapi, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, Gulai Kambing, Gulai Nangka, Gulai Kentang, Gulai Rebung dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.

“Kalau besok Gulai Nangka masih sehambar hari ini, kenduri tak usah dilanjutkan!” ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.

“Apa susahnya mendatangkan Makaji?”

“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”

Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar Gulai Kambing dan Gulai Rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.

“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini, bagaimana kalau tanggungjawab itu dibebankan pada yang lebih muda?” saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.

“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti,”

“Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.

“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu Rumah Makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah,”

Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orangtua selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orangtua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial segera memboyongnya ke rantau, Makaji tetap akan punya kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di Rumah Makan milik anaknya sendiri.

“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!”

“Kenduri siapa?” tanya Azrial.

“Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan,”

Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal babeleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya, mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang atau tambak ikan sebagai agunan, dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu.

Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota, tak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang perbedaan mereka.

“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!” bentak Mangkudun, dan tak lama berselang berita ini berdengung juga di kuping Azrial.

“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggungjawab. Renggo yakin kami berjodoh,”

“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”

“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”

“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”

Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati. Awalnya ia hanya tukang cuci piring di Rumah Makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam Rumah Makan dan duapuluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan. Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat, adik-adiknya sudah terbang-hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tapi tak seorang perempuan pun yang mampu luluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.

Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Ada yang bergunjing, perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.

Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan carikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak ‘macam-macam’ tentu karirnya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat, bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan tapi sudah tergesa pulang.

“Gulai Kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.

“Kuah Gulai Rebungnya encer seperti kuah sayur Toge. Kembung perut kami dibuatnya,”
“Dagingnya keras, tidak kempuh. Bisa rontok gigi awak dibuatnya,”

“Masakannya tak mengeyangkan, tak mengundang selera.”

“Pasti juru masaknya bukan Makaji!”

Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di Lareh Panjang punya keistimewaan tersendiri, dan keistimewaan itu ada pada rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?

“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu mereka bertanya-tanya.

“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu,”

“Ah, menyesal kami datang ke pesta ini!”

Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji, datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang telah kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.

Latihan Soal UAS 1 Materi Bahasa Indonesia Kelas XI

  1. Perhatikan kutipan berikut!

Judul                                    : Boulevard de Clichy-Agonia Cinta Monyet
Penulis                                 : Remy Sylado
Penerbit                              : Gramedia pustaka
Tanggal terbit                   : Maret – 2007
Jumlah halaman              : 400 halaman
Kategori                              : Novel

Kutipan di atas merupakan bagian dari penggalan resensi buku yang dinamakan ….

a. identitas buku
b. kepengarangan
c. keunggulan buku dan kelemahan buku
d. ikhtisar buku
e. penilaian buku

2. Perhatikan kutipan resensi berikut!

Sayangnya, akhir cerita yang terkesan terburu-buru dan terlalu dipaksakan membuat kekuatan cerita menjadi berkurang. Cerita tanah air dan bertemu kembali lagi ke tanah air dan bertemu kembali lagi selama 5 tahun ternyata tidak dikisahkan sedetil dan seindah novel di bagian awal. Akhir cerita lebih berwarna “fairy tale.” Seperti kisah putrid upik abu yang disunting pangeran kaya raya.

Kutipan di atas merupakan penggalan resensi yang mengemukakan ….

a. Identitas buku
b. Kepengarangan
c. Ikhtisar buku
d. Kelemahan buku
e. Keunggulan buku

3. Penggalan kalimat resensi buku nonfiksi terdapat dalam pernyataan ….

a. Buku ini secara keseluruhan mem0erikan perlindungan terhadap anak-anak lndonesia pada masa depan dalam lingkungan yang baik-baik.
b. Gaya Mochtar Lubis sangat khas, penggunaan majas perbandingan banyak digunakan didalam buku ini.
c. Semua unsur yang harus dimiliki dalam sebuah buku fiksi terpenuhi dalam buku ini.
d. Buku ini mengisahkan seorang guru yang bernama lsa yang hidup pada masa revolusi.
e. Dalam Burung-Burung Manyar pengarang menghubungkan kejadian yang dialami tokoh utamanya Setidewa alias Teto yang ber-aku. Continue reading “Latihan Soal UAS 1 Materi Bahasa Indonesia Kelas XI”

PENGUMUMAN PEMANGGILAN UJIAN ULANG 1 PESERTA PLPG RAYON 117 UNLAM TAHUN 2013

Bagi yang telah selesai mengikuti kegiatan PLPG Sertifikasi Guru kouta 2013, sudah dapat mengetahui hasil kelulusannya. Sedangkan yang belum lulus terdapat tiga ujian susulan, yaitu ujian tulis nasional, ujian tulis lokal, dan ujian praktik. Ujian tersebut akan dilaksanakan selama satu hari yaitu pada hari Minggu, 8 Desember 2013 yang dimulai dari pukul 09.00 sampai selesai. Untuk lebih jelasnya silakan unduh link berikut.

Microsoft Word - pemanggilan ujian ulang 1 PLPG-2013.docxuntuk mengetahui daftar nama yang mengikuti ujian susulan silakan unduh link berikut Panggil-Ujian-Ulang-Seluruh-Peserta-PLPG-SEMUA-TAHAP-umumkan

untuk lebih jelasnya silakan buka website resminya http://sergur.fkipunlam.ac.id/wp-content/uploads/2013/12/Panggil-Ujian-Ulang-Seluruh-Peserta-PLPG-SEMUA-TAHAP-umumkan.pdf

Bagi rekan-rekan yang lulus saya ucapkan selamat, dan bagi yang harus mengikuti ujian susulan semoga tetap semangat dan berusaha agar tanggal 8 nanti dapat melaksanakan ujian susulan dengan baik dan lancar.

GURU YANG DINANTI

IMG-20131115-00349SAHABAT, Seorang ibu bercerita kepada kawannya perihal anaknya yang selalu ceria dihari-hari tertentu saja saat sekolah. Saat ditanya “Kok ceria sekali hari ini nak?” Ia menjawab “Iya bu, soalnya nanti ada pak guru …mengajar dikelas saya bu”.

“Pokoknya jeng kalau giliran pak guru … mengajar pasti anak saya mudah dibangunkan, malamnya juga mau belajar, berangkatnya maunya paling pagi sendiri.” lanjut ibu itu bercerita.

“Katanya sih, pak guru … asik sekali mengajarnya, banyak permainan, suka bikin lagu-lagu tertentu untuk memudahkan anak hafalan, anak saya sering dapat bintang kalau dia berani maju, cuma berani maju lho jeng, apalagi kalau benar bintangnya dobel” ibu itu masih antusias bercerita. Continue reading “GURU YANG DINANTI”

KONSEP PENDEKATAN SCIENTIFIC

Dalam kurikulum 2013 sering sekali istilah pendekatan scientific menjadi bahan dalam sosialisasi/perbincangan antar pengajar. Ukuran yg menjadi dasar penetapan pendekatan scientific antara lain:

  • Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
  • Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka Continue reading “KONSEP PENDEKATAN SCIENTIFIC”

Pola Pikir Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013

cover_menyambut-kurikulum-2013Perubahan yang Mempengaruhi Pola Pikir

Dalam rumusan kurikulum 2013 ini, mencakup keseimbangan antara kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang hanya menekankan pada aspek pengetahuan (kognitif).  Berikutnya adalah lintasan yang berbeda untuk proses pembentukan tiap kompetensi. Lalu penekanan pada keterampilan berpikir menuju terbentuknya kreativitas. Kemampuan psikomotorik adalah penunjang keterampilan.  Pembelajaran melalui pendekatan scientific (Mengamati-Menanya-Mencoba-Menalar-Mengkomunikasikan) proses pembelajaran ini berlaku untuk semua mapel/tema. Tarakhir,  model pembelajaran yang dapat digunakan antara lain : Discovery learning-Project based learning-Collaborative learning.

Hal penting dalam konsep Kurikulum 2013 yang harus diketahui antara lain:

  1. Guru dan Buku Teks bukan satu-satunya sumber belajar Continue reading “Pola Pikir Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013”